Home / Kolom / Keluargaku, Semangat Hidupku

Keluargaku, Semangat Hidupku

Oleh : tim BPKK DPD PKS Kota Malang

Tak salah, jika keluarga merupakan segalanya dalam hidup kita. Tempat dimana kita memperoleh bukan hanya perlindungan tapi juga pendidikan paling dasar. Keluarga adalah tempat terpeliharanya fitrah manusia. Menjadi pengasih, penyayang, saling menjaga, saling mengingatkan, saling menguatkan. Dengan berkeluarga, kita memelihara kehidupan. Di dalamnya kita memperoleh keturunan. Juga disinilah tempat terpenuhinya semua kebutuhan biologis, psikologis, ekonomis, dan aspek sentralis lainnya.

Dalam kacamata Islam, fungsi utama berkeluarga adalah menyempurnakan ibadah kepada Allah subhanahuwata’ala. Berkeluarga sekaligus juga adalah sunnah Rosululloh Sallallahu ‘alaihi wasalam. Keluarga adalah karunia sekaligus amanah. Pasangan dan anak-anak keturunan kita adalah sebagian karunia dan amanah yang harus kita pertanggungjawabkan. Anggota keluarga kita adalah amanah yang harus kita jaga, yang harus kita selamatkan dari api neraka. Sebagaimana firman Allah, QS. At-Tahrim: 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”


Anak-anak harus dirawat dan dididik agar menjadi orang yang selamat. Tugas orang tua dalam keluarga adalah menjadikan seorang anak sukses di dunia dan sukses pula di akhirat. Orang tua harus menanamkan bekal hidup, juga berbagai paket latihan hidup bagi anak. Keluarga mensintesa antara teori dan praktek yang akan membentuk formula kematangan kimiawi dalam jiwa anak. Menaungi, itulah fungsi asasi yang menjadi dambaan insan manapun terhadap keluarga.

Sukses mendidik anak dalam keluarga salah satunya mungkin bisa digambarkan dengan bagaimana anak itu memandang keluarganya. Mereka akan selalu mengingat rumah dan keluarga. Dalam ingatannya, pulang ke rumah adalah kenyamanan; membayangkan rumah adalah kekangenan; menyebut rumah adalah keindahan. Saat telah berada dalam rumah bersama keluarga, enggan untuk beranjak pergi.

Keluarga merupakan fondasi bagi kehidupan seorang manusia. Allah telah menunjukkannya dalam firman-Nya QS An Nisa ayat 1 :

. يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan sillaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Untuk menjadi keluarga yang tangguh, dibutuhkan kekuatan komitmen sekaligus sikap profesional dalam pengelolaannya. Keluarga ibarat sebuah bangunan, setidaknya diperlukan 4 sisi dinding dan 1 atap sebagai penutupnya. Keempat dinding tersebut adalah Iman sebagai sumber energi, ilmu sebagai pelita, cinta sebagai penyemarak, dan ketrampilan rumah tangga sebagai perekatnya.

Dengan Iman, kita akan tunduk dan patuh kepada Allah. Kedudukan ini akan melahirkan kekuatan untuk membangun segala komponen yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Iman ini pula yang akan mendorong kita mencari ilmu dan menumbuhkan cinta.

Lalu atas dasar keimanan kepada Allah, seorang manusia akan tergerak untuk mencari ilmu untuk mengenal Allah. Untuk mencari jalan mendapatkan cinta Allah. Sehingga muncullah berbagai perspektif kehidupan yang mengarahkan manusia kepada cinta dan ridho Allah.

Iman dan ilmu ini yang akan mendampingi rasa cinta dalam hati manusia, agar senantiasa berada dalam koridor kebenaran. Hanya dengan cinta yang bersumber pada ruh imani, dan berjalan atas bimbingan ilmu, maka hati setiap manusia akan mudah tertaut. Cinta yang demikian akan langgeng karena tujuannya dan penguatnya adalah Allah Subhanahuwata’ala.

Jika setiap anggota keluarga menjalankan perannya sebagai hamba yang mengharap ridho Allah, dan menganggap setiap tingkah lagunya dalam keluarga adalah ibadah kepada Allah. Maka, itulah sebenar-benar tujuan lain karena seluruh anggota memahami bahwa menumbuhkan dan meningkatkan keharmonisan keluarga bernilai ibadah.

Keluarga yang sehat dan berbahagia bukanlah sebagai tujuan utama berkeluarga. Namun kelanggengan untuk senantiasa taat beribadah kepada Allah SWT dalam bingkai rumah tangga dan keluarga adalah nikmat yang tiada terkira.

Keharmonisan keluarga tentu membutuhkan kerja keras yang kasat mata. Harus senantiasa ada kesinambungan dan kemampuan untuk mengelola dan meningkatkan kapasitas melayani dan mendampingi pasangan, kapasitas merawat anak, kapasitas mengelola pernah pernik rumah tangga seperti mengelola keuangan, menata rumah, melaksanakan hobi, dan beragam aspek riil lainnya.

Kesemua hal tersebut membutuhkan ilmu. Ilmu yang beragam dan komprehensif mengenai keluarga, yang salah satunya adalah ketrampilan rumah tangga. Ketrampilan rumah tangga adalah perekat yang menjadi sumber kekuatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan holistik keluarga. Jika sumber daya untuk mengelola rumah tangga mumpuni, maka kebutuhan keluarga akan mudah terpenuhi.

Semoga keluarga-keluarga Indonesia menjadi keluarga yang tangguh. Keluarga yang selalu siap menghadapi tantangan hidup dan berbagai cobaan yang menerpa. Terutama yang terjadi saat pandemi seperti sekarang ini.

#harikeluarganasional
#harianaknasional
#cintaPKSwujudkankeluargatangguhIndonesia

Print Friendly, PDF & Email

Check Also

Selamat Jalan Singa dari Surakarta

Oleh: Ustadz Cahyadi Takariawan Sudah lama saya mengenal beliau. Sejak saya masih kuliah. Kisaran tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.