Banjir besar yang melanda Kota Malang pada 4 Desember 2025 kembali memunculkan kritik terhadap kemampuan Pemerintah Kota (Pemkot) dalam melakukan mitigasi bencana. Genangan air yang mencapai ketinggian hingga 165 cm itu berdampak pada sedikitnya 39 titik, dengan kondisi terparah terjadi di kawasan Jalan Sidomulyo dan Letjen Sutoyo.
Anggota DPRD Kota Malang dari Dapil Klojen, H. Bayu Rekso Aji, menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi bukti nyata gagalnya upaya mitigasi Pemkot. Menurutnya, masalah banjir ini bukan persoalan baru dan telah berulang kali dipetakan secara jelas.
H. Bayu Rekso Aji menjelaskan bahwa terdapat dua persoalan utama yang selama ini diabaikan:
- Fungsi drainase yang tidak berjalan optimal, dan
- Sedimentasi parah yang sudah menumpuk bertahun-tahun tanpa penanganan serius.
Ia menambahkan bahwa isu drainase dan sedimentasi telah menjadi pembahasan reguler dalam berbagai laporan teknis, kunjungan lapangan, dan rapat resmi di DPRD selama lima tahun terakhir. Namun, respon Pemkot dinilai masih jauh dari kebutuhan mendesak di lapangan.
H. Bayu Rekso Aji menilai Kota Malang tidak lagi membutuhkan teori atau kajian baru. Diagnosa masalah sudah sangat jelas. Yang dibutuhkan adalah penegakan aturan secara tegas terutama terhadap bangunan yang melanggar dan menghambat aliran air serta penempatan anggaran yang benar-benar memprioritaskan penanganan banjir.
Bayu juga memberikan catatan penting untuk penyusunan APBD 2027, khususnya terkait evaluasi program RT Berkelas. Ia menyarankan agar program tersebut diarahkan ulang untuk memperkuat penanganan banjir, bukan hanya menjalankan rutinitas tanpa menyelesaikan akar persoalan.
“Banjir 4 Desember adalah alarm keras. Kota ini tidak boleh terus-menerus terjebak dalam siklus banjir tahunan yang sebetulnya sudah kita ketahui penyebabnya dan telah kami sampaikan berulang kali,” ujarnya.
H. Bayu Rekso Aji berharap Pemkot dapat mengambil langkah cepat dan tegas dalam penegakan peraturan, sementara DPRD memberikan dukungan politik melalui fungsi penganggaran dan pengawasan. Dengan kerja bersama yang lebih konkret, ia yakin Kota Malang dapat membangun sistem mitigasi bencana yang lebih kuat dan mampu meminimalkan risiko di masa mendatang.




