Malang sejak lama dikenal sebagai Kota Pelajar, rumah bagi ribuan mahasiswa dari berbagai daerah dengan atmosfer akademik yang kondusif. Namun, belakangan publik dikejutkan dengan baliho klub malam berukuran besar yang terpasang di titik strategis kota. Konten promosinya dinilai mengundang mahasiswa baru untuk menikmati hiburan malam, sehingga memicu polemik di tengah masyarakat.
Kekhawatiran muncul bukan hanya soal estetika kota, tetapi juga potensi bergesernya citra Malang sebagai pusat pendidikan. Sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, hingga orang tua mahasiswa menyampaikan keluhan, baik melalui media sosial maupun forum komunitas. Mereka menilai promosi semacam ini tidak selaras dengan identitas Malang sebagai Kota Pendidikan.

Tanggapan Dr. Indra Permana
Anggota DPRD Kota Malang Komisi B, Dr. H. Indra Permana, S.E., M.M., menegaskan bahwa baliho klub malam dapat menggerus citra Malang di mata publik.
“Jika citra Kota Pendidikan bergeser, reputasi sosial terganggu, mahasiswa bisa ragu datang, investor pendidikan menahan diri, dan pada akhirnya ekonomi kota juga terimbas,” ujarnya.
Menurut Indra, fenomena ini adalah konsekuensi kota yang semakin terbuka dengan banyak pendatang. Tantangannya bukan menutup diri, melainkan mengelola keterbukaan agar tetap selaras dengan identitas Kota Pelajar.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan terpadu antara dinas perizinan, Satpol PP, dan pihak kampus untuk mencegah konten promosi yang berpotensi negatif lebih dominan daripada nilai edukasi.
Usulan Solusi
Sebagai jalan keluar, Indra menawarkan tiga langkah:
- Regulasi iklan luar ruang yang lebih selektif, agar promosi hiburan malam tidak mendominasi citra kota.
- Penguatan branding positif, seperti baliho, mural, atau media publikasi yang menonjolkan prestasi akademik dan kreativitas mahasiswa.
- Alternatif hiburan sehat berupa festival seni, olahraga, dan ruang kreatif anak muda, sehingga mahasiswa memiliki pilihan rekreasi yang membangun karakter.
Menjaga Identitas Kota Pendidikan
Indra menegaskan bahwa mahasiswa datang ke Malang bukan hanya mengejar gelar, tetapi juga pengalaman hidup yang membentuk masa depan.
“Hiburan boleh ada, tapi jangan sampai mengaburkan identitas utama kita sebagai Kota Pelajar,” tegasnya.
Dengan menjaga keseimbangan antara keterbukaan kota dan citra pendidikan, Malang diharapkan tetap menjadi destinasi unggulan bagi mahasiswa dan investor pendidikan. Upaya ini penting tidak hanya untuk reputasi sosial, tetapi juga bagi keberlanjutan ekonomi kota yang bertumpu pada sektor pendidikan.





