Jakarta (04/02) — Anggota DPR yang juga Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid menerima kunjungan delegasi Panitia Pelaksana Munas VIII Pemuda Hidayatullah, di Ruang Kerjanya, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (02/02/2023).

Kunjungan yang dipimpin Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo serta dihadiri Ketua Umum Imam Nawawi dan empat orang PP Pemuda Hidayatullah ini selain bersilaturahmi dan berdialog, juga menyampaikan undangan resmi kepada Wakil Ketua MPR, HNW, untuk hadir dan menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Munas Ke-VIII Pemuda Hidayatullah, pada tanggal 17-19 Februari 2023.

Kepada delegasi, Pimpinan MPR dari PKS ini menyampaikan terimakasih dan mengapresiasi kegiatan positif yang dilaksanakan PP Pemuda Hidayatullah.

“Saya memaknai kegiatan Munas yang akan dilaksanakan menandakan bahwa organisasi kepemudaan ini berjalan dengan program-program yang baik. Maka wajar bila eksistensi organisasi PP Pemuda Hidayatullah sudah menyebar di berbagai provinsi dan kabupaten, malah sudah berdiri pula di provinsi-provinsi baru di Papua,” ujarnya.

Ditambahkan HNW, berjalan baiknya organisasi kemasyarakatan di Indonesia seperti Pemuda Hidayatullah, merupakan bukti bahwa di negara demokrasi, umat Islam atau warga lainnya bisa mengembangkan potensi dan keahliannya, ilmunya dan semua potensi dirinya, untuk ikut berperan dalam meningkatkan kualitas kehidupan ber-keumatan, berbangsa dan bernegara.

“Kondisi ini tidak didapatkan di negara-negara yang tidak demokratis. Ini penting disadari dan dijadikan sarana oleh umat apalagi pemuda Islam, untuk merealisasikan berbagai maslahat untuk umat sebagaimana dicontohkan oleh para Kiyai dan Ulama Founding Fathers Indonesia,” kata Anggota Komisi VIII DPR FPKS ini.

Organisasi, lanjut HNW, memang sangat penting untuk dimaksimalkan perannya agar maslahat bisa diwujudkan dan mafsadat bisa dikoreksi.

“Namun, harus diingat. Dalam menjalankan organisasi, harus menerapkan prinsip mulia dalam Islam selain akhlak dan amanah (profesionalitas) juga ta’awun atau kemampuan membuka diri untuk berkolaborasi. Sebab, organisasi tidak mungkin berjalan sendiri. Dia harus berkolaborasi dengan sekitarnya. Lagipula, dalam Islam kita tidak hanya diajarkan hanya untuk wa aqimus-salaata wa aatuz-zakaata (sholat dan zakat) tapi juga untuk wa ta’aawanu ‘alal-birri wat-taqwaa (berkolaborasi hadirkan kebaikan dan kemaslahatan),” terang HNW.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menekankan, posisi serta peran generasi muda Indonesia dalam berorganisasi sangat penting dan dibutuhkan. Sebab, bukan hanya secara sunnatullah dan sunnah Rasulullah yang sangat mementingkan peran pemuda untuk persiapan regenerasi kepemimpinan, tapi memang dalam konteks Indonesia, peran pemuda termasuk pemuda Islam (Jong Islamieten Bond) sudah diakui, benar dan tercatat dalam memori sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

“Intinya, peran dan kiprah pemuda Islam mesti di kedepankan mulai dari saat ini. Saya melihat, sudah sangat tepat DPP Hidayatullah semakin gencar mempersiapkan pemuda-pemudanya, untuk menghadapi dan berkontribusi menyongsong era Indonesia Emas 2045. Memang harus sudah dipersiapkan sejak sekarang, sebab jika lengah sedikit saja maka kualitas generasi muda kita akan kalah jauh dengan mereka yang sudah lama mempersiapkannya,” pungkas HNW.